Khutbah Jum’at: Menggapai Hikmah dari Perjalanan Isra dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya senantiasa terlimpah kepada kalian
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ، وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
“Alhamdu lillahi nahmaduhu, wa nasta’inuhu, wa nastaghfiruhu, wa na’udhu billahi min shuroori anfusina, wa min sayyi’ati a’malina, man yahdihillahu fala mudhilla lahu, wa man yudhlil fala hadiya lahu. Wa ashhadu alla ilaha illallah wahdahu la sharika lahu, wa ashhadu anna Muhammadan abduhoo wa rasooluhu, sallallahu alaihi wa aalihi wa ashabihi ajma’in.”
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang telah memberikan kita berbagai nikmat sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ḥallallāhu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Qāla allāhu ta‘ālā fī kitābihil-karīm”
“Yā ayyuhal-ladzīna āmanū ittaqūllāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.”
“Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia”
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Ya ayyuhan nasu ittaqu rabbakumu alladzi khalaqakum min nafsin wahidah, wa khalaqa minhaa zawjaha, wa batstsa minhuma rijalan katsiran wa nisa’a, wattaqullaha alladzi tasa’aluna bihi wal arham. Inna allaha kana ‘alaikum raqiba.“
“Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu (Adam), dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kalian kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kekerabatan. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
:أَمَّا بَعْدُ
“Ya ayyuhal ladzina amanu ittaqullaha wa qulu qaulan sadida, yushlih lakum a’malakum wa yaghfir lakum dzunubakum, wa man yuthi’illaha wa rasulahu faqad faza fauzan ‘azima.”
“Amma ba‘du,“
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”
“Adapun setelah itu…”
مَعَاشِرَ ٱلْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ ٱللَّهُ
“Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.”
“Wahai sekalian kaum Muslimin, semoga Allah merahmati kalian.”
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang diwujudkan dengan ketaatan penuh kepada segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, kita dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita renungkan bersama salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam yang menjadi tonggak keimanan umat, yaitu Isra dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Peristiwa ini bukan hanya mukjizat yang menunjukkan kekuasaan Allah, tetapi juga mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat dalam untuk kita jadikan pedoman hidup.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra Ayat 1:
سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡرُ
“Subġāna alladhī asrā bi’abadihi laylan mina al-masjidi al-ṣarā ilā al-masjidi al-aqṣā alladhī bāraknā ġawlahu linuriyahu min āyātinā. Innahu huwa al-samī’u al-baṣīru.”
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
مَعَاشِرَ ٱلْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ ٱللَّهُ
“Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.”
“Wahai sekalian kaum Muslimin, semoga Allah merahmati kalian.”
Pelajaran Pertama: Keimanan yang Kokoh kepada Allah
Isra dan Mi’raj adalah ujian keimanan, terutama bagi umat Islam pada masa awal kenabian. Peristiwa ini menuntut kaum Muslimin untuk benar-benar yakin kepada kekuasaan Allah yang Maha Luas. Sebagai contoh, Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika mendengar berita ini, langsung membenarkan tanpa ragu. Beliau berkata, “Jika Rasulullah yang mengatakannya, maka itu pasti benar.” Sikap ini memberikan pelajaran kepada kita untuk senantiasa percaya kepada kebenaran wahyu dan mukjizat Allah meskipun di luar nalar manusia.
Pelajaran Kedua: Kewajiban Shalat Lima Waktu
Di Sidratul Muntaha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerima perintah langsung dari Allah untuk menunaikan shalat lima waktu. Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak lima puluh kali sehari, namun atas permintaan Rasulullah yang memohon keringanan, akhirnya Allah menetapkan lima waktu sehari dengan pahala yang setara lima puluh kali. Hal ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada umat-Nya.
Shalat adalah tiang agama, dan shalat juga merupakan mi’raj bagi orang-orang beriman. Dalam shalat, seorang Muslim berkomunikasi langsung dengan Allah. Oleh karena itu, shalat harus dijaga dengan sebaik-baiknya, baik dari segi waktunya, khusyuknya, maupun pelaksanaannya sesuai sunnah Rasulullah.
Pelajaran Ketiga: Kedudukan Masjid Al-Aqsha
Isra mengajarkan kita akan pentingnya Masjid Al-Aqsha sebagai kiblat pertama umat Islam dan salah satu dari tiga masjid yang dimuliakan dalam Islam. Rasulullah bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Lā tusyaddur-riḥālu illā ilā ṡalāṡati masājid: al-Masjidil-Ḥarām, wa masjidī hādzā, wal-Masjidil-Aqṣā.”
“Janganlah kalian bersusah payah bepergian kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih)
Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap Masjid Al-Aqsha, baik dengan mendoakan, membantu perjuangan kaum Muslimin di sana, maupun menjaga kesadaran akan pentingnya tempat suci ini dalam sejarah Islam.
مَعَاشِرَ ٱلْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ ٱللَّهُ
“Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.”
“Wahai sekalian kaum Muslimin, semoga Allah merahmati kalian.”
Hikmah dari Perjalanan Luar Biasa
Peristiwa Isra dan Mi’raj adalah pengingat bahwa Allah memiliki kekuasaan tak terbatas. Mukjizat ini adalah bukti bahwa Allah mampu melakukan apa saja, termasuk membawa hamba-Nya dalam sekejap melintasi ruang dan waktu. Hal ini mengajarkan kita untuk senantiasa tawakal kepada Allah dalam menghadapi berbagai ujian hidup, karena sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Perjalanan ini juga mengajarkan pentingnya sabar dalam menghadapi ujian. Sebelum Isra dan Mi’raj, Rasulullah mengalami “Tahun Kesedihan” di mana beliau kehilangan istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid, dan paman pelindungnya, Abu Thalib. Namun, Allah memberikan hiburan dan penguatan kepada beliau melalui peristiwa ini. Maka, dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, yakinlah bahwa akan ada kemudahan dari Allah.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa Isra dan Mi’raj untuk meningkatkan keimanan, menjaga shalat, dan memperkuat cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Marilah kita jadikan shalat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Rasulullah mendekat kepada-Nya dalam perjalanan Mi’raj.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita di jalan-Nya.
بارَكَ اللَّهِ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Barakallahu li wa lakum fil Qur’anil ‘Azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim. Wa astaghfirullaha li wa lakum fastaghfiruh innahu huwal ghafurur rahim.”
“Semoga Allah memberkahi saya dan kalian semua dalam Al-Qur’an yang agung, dan semoga Dia memberi manfaat kepada saya dan kalian dengan ayat-ayat-Nya dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Saya memohon ampun kepada Allah untuk diri saya dan kalian, maka mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
:أَمَّا بَعْدُ
“Alhamdu lillaahi wa kafaa, wa ushallii wa usallimu ‘alaa Muhammadin al-Musthafaa, wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ahlil-wafaa. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh”
“Amma ba‘du,”
“Segala puji bagi Allah yang mencukupi (segala sesuatu), dan aku bersalawat serta mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad yang terpilih, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya yang setia. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Adapun setelah itu…”
مَعَاشِرَ ٱلْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ ٱللَّهُ
“Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.”
“Wahai sekalian kaum Muslimin, semoga Allah merahmati kalian.”
Marilah kita menutup khutbah ini dengan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon ampunan-Nya, keberkahan-Nya, dan kekuatan iman dalam menjalani kehidupan ini. Janganlah kita lalai dalam menegakkan shalat, menjaga ukhuwah, dan senantiasa memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan kita.
Ada suatu ungkapan dari para ulama:
الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِينَ
“Ash-shalatu mi’rajul mu’minin”
“Shalat adalah mi’raj bagi orang-orang beriman.“
Semoga shalat kita menjadi perjalanan spiritual yang mendekatkan kita kepada Allah, sebagaimana perjalanan Mi’raj mendekatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada-Nya.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Fa yaa ayyuhal-muslimuun, uushiikum wa nafsi bi-taqwallahil-‘aliyyil-‘azhiim, wa’lamuu anna Allaha amarakum bi-amrin ‘azhiim, amarakum bish-shalaati was-salaami ‘alaa nabiyyihil-kariim, faqaal: Inna allaaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘alan-nabiyy, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alayhi wa sallimuu tasliimaa.“
“Maka wahai kaum Muslimin, aku berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang agung, yaitu perintah untuk bersalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya yang mulia. Maka Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benar salam.’ (QS. Al-Ahzab: 56)”
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Allahumma sholli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammadin, kamaa shollaita ‘ala Ibraahiima wa ‘ala aali Ibraahiima, innaka hamiidum-majiid. Wa baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammadin, kamaa baarakta ‘ala Ibraahiima wa ‘ala aali Ibraahiima, innaka hamiidum-majiid.”
“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawat kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
“Allahummaghfir lil-mu’miniina wal-mu’minaati wal-muslimiina wal-muslimaat, al-ahyaa’i minhum wal-amwaat, innaka samii’un qariibun mujiibud-da’awaat.”
“Ya Allah, ampunilah dosa kaum mukminin dan mukminat, kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.”
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Allahummakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika wa aghninā bi faḍlika ‘amman siwāk.”
“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan berilah kami kecukupan dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu.”
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ.
“Allahumma innā na‘ūdhu bika min zawāli ni‘matika wa taḥawwuli ‘āfiyatika wa fujā’ati niqmatika wa jamī‘i sakhaṭika.”
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, berubahnya kesehatan yang Engkau berikan, datangnya azab-Mu secara tiba-tiba, dan segala sesuatu yang menyebabkan kemurkaan-Mu.”
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِي الجِسْمِ، وَزِيَادَةً فِي العِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ المَوْتِ، وَشَهَادَةً عِندَ المَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ المَوْتِ، وَالفَوْزَ بِالجَنَّةِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ
“Allahumma inna nas’aluka salamatan fid-din, wa ‘aafiyatan fil-jism, wa ziyaadatan fil-‘ilm, wa barakatan fi ar-ruziq, wa tawbatan qablal-maut, wa shahadatan ‘inda al-maut, wa maghfiratan ba’dal-maut, wal-fawza bil-jannah, wal-najata minan-naar.”
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama, kesehatan tubuh, penambahan ilmu, keberkahan dalam rezeki, taubat sebelum mati, syahid di saat mati, ampunan setelah mati, kemenangan dengan surga, dan keselamatan dari api neraka.”
رَبَّنَا آتِنا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fi al-akhirati hasanatan wa qina ‘adhaban-nar.”
“Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
سُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Subhanaka rabbil-‘izzati ‘amma yasifun, wa salamun ‘ala al-mursalin, wal-hamdu lillahi rabbil-‘alamin.”
“Maha Suci Engkau, Tuhan yang Maha Mulia, dari apa yang mereka sifatkan. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada para rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
“Ibādallāh, inna Allāha ya’muru bil-‘adli wa al-iḥsāni wa iytā’i dhī al-qurbā wa yanhā ‘ani al-faḥshā’i wa al-munkari wa al-baghyi ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa-udhkurullāha al-‘Aẓīma yadhkurkum wa asykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum wa ad‘ūhu yastajib lakum wa la-dzikrullāhi akbar.”
“Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan (kalian) untuk berlaku adil, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil peringatan. Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah (nikmat) kepada kalian. Dan berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengabulkannya. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya).”
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya senantiasa terlimpah kepada kalian
أقيموا الصلاة
“Aqimu shalat.”
“Laksanakanlah shalat.”
Penulis: HaDyJaKa



Post Comment