Hijrah Itu Jalan Sunyi, Tapi Allah Menanti di Ujungnya
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tahun baru Islam 1 Muharram 1447 H kembali mengetuk hati kita. Bagi sebagian orang, hari ini mungkin hanya sebuah tanggal baru di kalender. Tapi bagi hati yang sadar, ia adalah panggilan. Panggilan untuk berpindah. Berhijrah. Bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah jiwa. Dari gelap menuju terang. Dari lalai menuju sadar. Dari jauh kepada dekat… kepada Allah ﷻ.
Hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah napas perjuangan. Ia adalah suara lirih dari dalam hati yang rindu kepada Rabb-nya. Hijrah bukan parade, bukan euforia, dan bukan pula status sosial. Ia adalah langkah sunyi yang sering kali tak terlihat mata, namun mengguncang langit karena keikhlasan niatnya.
Hijrah Rasulullah ﷺ: Jejak Awal dari Jalan Sunyi
Lebih dari 14 abad lalu, Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya memulai hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah itu bukan pelarian, tapi pengorbanan. Mereka tinggalkan harta, kampung halaman, bahkan keluarga demi menjaga iman.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Inna alladzīna āmanū walladzīna hājārū wa jāhadū fī sabīlillāh, ulā`ika yarjūna raḥmatallāh, wallāhu ghafūrun raḥīm.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah: 218)
Namun, perjalanan itu bukan tanpa luka. Di jalan hijrah, ada air mata. Ada kehilangan. Ada rasa takut. Ada rindu yang tertahan. Ada luka yang harus ditelan dalam diam. Tapi mereka yakin, bahwa Allah menanti mereka di ujung jalan. Bahwa surga terlalu layak untuk diperjuangkan meski dengan rasa sepi.
Hijrah di Zaman Sekarang: Sunyi yang Baru
Hari ini, kita tidak perlu berjalan kaki menyeberangi padang pasir. Tidak perlu lagi meninggalkan kota. Tapi jalan hijrah tetap ada—dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan ujian yang sama.
Hijrah dari dosa. Hijrah dari lingkungan yang buruk. Hijrah dari hubungan yang tak halal. Hijrah dari kemalasan menuju ibadah. Hijrah dari ragu kepada iman. Semua itu tetap jalan sunyi. Karena sering kali, tidak ada yang tahu bahwa kita sedang berjuang. Bahkan orang terdekat kita pun tak memahami betapa kerasnya kita menahan diri dari maksiat.
Dan karena sunyi itulah, Allah sangat dekat dengan hamba-Nya yang berhijrah.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ”
Al-muhājiru man hajara mā nahāllāhu ‘anhu.
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Bukhari, Nomor 10: Shahih)
Tak Populer, Tapi Bernilai di Sisi Allah
Banyak orang berhijrah justru kehilangan teman. Tak lagi diundang dalam komunitas lamanya. Dijauhi, dianggap aneh. Bahkan ada yang ditertawakan karena mulai memakai jilbab besar, karena mulai rutin ke masjid, karena mulai bicara dengan penuh kehati-hatian.
Itulah sunyinya hijrah. Ia tidak membawa tepuk tangan, tapi menghadirkan keheningan. Ia tidak membawa pujian manusia, tapi membawa ridha Allah.
وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
Wa man yuhājir fī sabīlillāhi yajid fi al-arḍi murāghaman kaṡīran wa sa‘ah.
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…”
(QS. An-Nisa: 100)
Hijrah, meski sunyi, ternyata dibukakan keberkahan oleh Allah. Rezeki, ketenangan batin, dan sahabat-sahabat baru yang salih akan menggantikan apa yang hilang.
Air Mata di Ujung Doa
Hijrah yang paling berat adalah hijrah batin. Hijrah niat. Menyucikan hati dari cinta dunia, dari keinginan untuk dilihat, dari penyakit hati seperti iri, dendam, dan sombong.
Sering kali, hijrah tidak hanya membuat kita menangis karena kehilangan dunia, tapi juga membuat kita menangis karena merasa dekat dengan Allah seperti belum pernah sebelumnya.
Malam-malam yang tadinya kosong, kini diisi oleh doa dan dzikir. Sejadah yang tadinya berdebu, kini menjadi saksi sujud panjang yang penuh tangis. Sunyi memang, tapi inilah sunyi yang sangat indah.
Allah Menanti
Jalan hijrah itu berat, karena surga itu mahal. Tapi Allah tidak membiarkan kita berjalan sendiri. Di setiap langkah yang kita ambil, ada rahmat Allah yang menyertai.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Wa alladzīna jāhadū fīnā lanahdiyannahum subulanā, wa inna allāha lama‘al muḥsinīn
Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Hijrah itu jalan sunyi, tapi Allah menanti di ujungnya. Menanti dengan kasih-Nya, dengan ampunan-Nya, dengan tempat terbaik di sisi-Nya.
Penutup: Mari Kita Pulang
Di awal tahun baru Islam ini, mari kita mulai dengan hijrah. Hijrah dari kelalaian menuju kesadaran. Dari sibuk dunia ke cinta akhirat. Hijrah bukan harus langsung sempurna, tapi harus terus melangkah.
Jangan tunggu ramai. Jangan tunggu diajak. Mulailah sendiri. Karena sungguh, Allah tidak melihat siapa yang paling dulu, tapi siapa yang paling tulus.
Dan jika hari ini ada satu langkah kecil yang kau ambil untuk menjauhi dosa, walau tak ada yang melihat—ketahuilah bahwa Allah sedang menyambutmu dari ujung jalan itu.
“Hijrah itu jalan sunyi, tapi Allah menanti di ujungnya…”
Penulis: Abah HaDy

Post Comment