Kesombongan Menolak Syariat: Menutup Hati dari Kebenaran
Kesombongan adalah sifat yang berbahaya dan dapat menghalangi seseorang menerima kebenaran, terutama kebenaran yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umat Islam tentang dampak buruk dari sifat ini. Artikel ini akan membahas tentang kesombongan dalam menolak syariat Islam, dampaknya, serta bagaimana kita bisa menghindari sifat ini.
Definisi Kesombongan dalam Islam
Kesombongan dalam Islam disebut dengan “kibr” dan didefinisikan oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ رَجُلًا يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَسَاعِدُهُ حَسَنًا؟ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ. الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 91، شَاهِح)
“Lā yadkhulu al-jannah man fī qalbihi mithqālū dharratin min kibrin. Qāla rajulun: Innā rajulan yuḥibbu an yakūna thawbuhu ḥasanan wa sandāluhu ḥasanan? Qāla: Inna Allāha jamīlun yuḥibbu al-jamāl. Al-kibru baṭarul-ḥaqqi wa ghamṭu an-nās.”
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan.” Seorang lelaki bertanya, ‘Bagaimana dengan orang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?’ Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim: 91, Shahih)
Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan bukanlah tentang penampilan luar, melainkan sikap hati yang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
Dalil Al-Qur’an Tentang Kesombongan
Al-Qur’an banyak menyebutkan tentang bahaya kesombongan. Dalam Surat Al-A’raf ayat 146, Allah berfirman:
سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۖ وَإِن يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍۢ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا ۚ وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًۭا ۖ وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًۭا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُوا۟ عَنْهَا غَٰفِلِينَ
“Saashrifu ‘an ayatiyal lazeena yatakabbaroona fil ardhi bighairil haqq; wa iny-yaraw kulla aayatil laa yu’minoo biha wa iny-yaraw sabeelur rushdi laa yattakhizoohu sabeelanw-wa iny-yaraw sabeelal ghaiyi yattakhizoohu sabeelaa; zaalika biannahum kazzaboo bi aayaatinaa wa kaanoo ‘anhaa ghaafileen.”
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat (tanda-tanda kekuasaan-Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (QS. Al-A’raf: 146)
Ayat ini menjelaskan bahwa kesombongan dapat menyebabkan seseorang berpaling dari petunjuk Allah dan memilih jalan yang salah.
Kesombongan Iblis: Teladan yang Harus Dijauhi
Salah satu contoh terbesar kesombongan adalah kisah Iblis ketika menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam عليه السلام. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 34, Allah berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Wa iz qulnaa lil malaaa’ikatisjudoo li Aadama fasajadoo illaaa iblees; abaa wastakbara wa kaana minal kaafireen.”
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Kesombongan Iblis ini menjadi pelajaran bahwa sifat sombong dapat membawa seseorang pada kehancuran dan penolakan terhadap perintah Allah.
Akibat Kesombongan Menolak Syariat
Kesombongan dalam menolak syariat memiliki konsekuensi serius, baik di dunia maupun di akhirat:
- Hati Menjadi Tertutup Kesombongan menyebabkan hati menjadi keras dan sulit menerima kebenaran. Allah berfirman:
فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةًۭ
“Fabi maa naqdihim meesaaqahum la’an naahum wa ja’alnaa quloobahum qaasiyaah.”
“Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Ma’idah: 13)
- Jauh dari Hidayah Orang yang sombong akan sulit menerima hidayah, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-A’raf ayat 146.
- Dihina di Hari Kiamat Allah berfirman dalam Surat Al-Ghafir ayat 76:
ٱدْخُلُوٓا۟ أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَبِّرِينَ
“Udkhuloo abwaaba jahannama khaalideena feehaa fabi’sa maswal-mutakabbireen.”
“(Dikatakan kepada mereka): ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya.’ Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Ghafir: 76)
Bagaimana Menghindari Kesombongan?
- Belajar dan Memahami Ilmu Syariat Kesombongan sering kali berasal dari ketidaktahuan. Dengan belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita dapat memahami kebenaran dan tunduk kepada-Nya.
- Memperbanyak Dzikir dan Muhasabah Dzikir dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari sifat sombong. Muhasabah membantu kita menyadari kekurangan diri.
- Berdoa Memohon Perlindungan dari Kesombongan Rasulullah ﷺ mengajarkan doa agar dijauhkan dari sifat buruk, termasuk kesombongan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا
“Allahumma inni a’udzu bika min sharri nafsi, wa min sharri kulli daabbatin anta aakhidhun binaasiyyatihaa.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku dan keburukan setiap makhluk yang Engkau pegang ubun-ubunnya.” (HR. Abu Dawud, No. 5071, Shahih)
Kesimpulan
Kesombongan adalah penghalang terbesar untuk menerima kebenaran. Dengan rendah hati, belajar, dan mengamalkan syariat, kita dapat menjauhkan diri dari sifat ini. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba yang tawadhu dan menerima kebenaran-Nya dengan lapang dada. Aamiin.
Penulis: HaDyJaKa



Post Comment