Ketika Menantu dan Mertua Berselisih: Pandangan Islam tentang Sikap dan Kata-Kata yang Menyakiti
Hubungan antara menantu dan mertua sering kali menjadi ujian tersendiri dalam rumah tangga. Konflik yang muncul di antara mereka, jika tidak ditangani dengan baik, dapat mengganggu keharmonisan keluarga. Salah satu kasus yang sering terjadi adalah ketika seorang istri merasa ibu mertuanya tidak menyukainya, hingga ia merespons dengan kata-kata kasar atau bahkan doa buruk agar sang ibu mertua segera meninggal. Bagaimana Islam memandang perilaku seperti ini? Dan apa yang seharusnya dilakukan seorang menantu maupun suami dalam menghadapi situasi ini?
Kedudukan Ibu Mertua dalam Islam
Dalam Islam, mertua, terutama ibu mertua, memiliki posisi yang harus dihormati, karena mereka adalah orang tua dari pasangan kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana firman-Nya:
وَوَصَّيْنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حُسۡنٗاۖ
“Wa waṣṣaynā al-insāna biwālidayhi ḥusnan.”
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ankabut: 8)
Meskipun ayat ini secara khusus berbicara tentang orang tua kandung, prinsip berbuat baik ini juga berlaku kepada mertua, karena mereka telah menjadi bagian dari keluarga besar kita. Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga pasangan, termasuk mertua.
Pandangan Islam tentang Kata-Kata Kasar dan Sumpah Serapah
Islam sangat menekankan akhlak mulia, terutama dalam berbicara. Kata-kata yang kasar dan menyakitkan, apalagi doa buruk kepada orang lain, sangat dilarang dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Man kāna yu’minu billāhi wa al-yawmil-ākhir falyaqul khayran aw liyaṣmut.”
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari: 6018; Muslim: 47, Shahih)
Doa buruk atau sumpah serapah terhadap ibu mertua, meskipun karena perlakuannya yang tidak menyenangkan, adalah tindakan yang sangat tercela. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
“Laisa al-mu’minu biṭa‘ān, wa lā la‘ān, wa lā al-fāḥish, wa lā al-badhī’.”
“Bukanlah seorang Mukmin yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi: 1977, Hasan)
Kata-kata kasar dan doa buruk bukan hanya melukai hati orang lain, tetapi juga mencerminkan lemahnya iman seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk membalas keburukan dengan kebaikan:
وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ
“Wa lā tasta’wi al-ḥasanatu wa lā as-sayyi’ah. Idfa‘ billatī hiya aḥsan, fa idhā alladhī baynaka wa baynahu ‘adāwatun ka-annahu waliyyun ḥamīm.”
“Tidaklah sama antara kebaikan dan keburukan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan di antara kamu dan dia seolah-olah menjadi teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34)
Peran Suami dalam Menasihati Istri
Suami memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keharmonisan keluarga, termasuk menjadi penengah antara istrinya dan ibunya. Ketika konflik terjadi, suami harus memberikan nasihat kepada istrinya dengan cara yang baik, sebagaimana perintah Allah:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ
“Wa ‘āshirūhunna bil-ma‘rūf.”
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)
Suami juga harus mengingatkan istrinya untuk bersabar dan memperbanyak istigfar agar mendapatkan pertolongan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ
“Wa aṣ-ṣabru ḍiyā’un.”
“Sabar itu cahaya.” (HR. Muslim: 223, Shahih)
Namun, jika istri menolak nasihat suaminya dengan alasan bahwa mertua bukanlah sosok yang layak dihormati, ini menunjukkan adanya kekurangan dalam pemahaman agama dan pengendalian diri. Sang istri harus merenungkan, apakah melawan mertua akan benar-benar menyelesaikan masalah, atau justru menambah dosa dan memperburuk hubungan rumah tangga.
Mengapa Melawan Bukan Solusi?
Melawan ibu mertua, baik dengan kata-kata kasar maupun tindakan buruk, hanya akan menambah konflik dan dosa. Islam mengajarkan umatnya untuk mengendalikan emosi dan merespons keburukan dengan kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Laisa asy-syadīdu biṣ-ṣur‘ah, innamā asy-syadīdu allażī yamliku nafsahu ‘inda al-ghaḍab.”
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari: 6114; Muslim: 2609, Shahih)
Sikap kasar dan doa buruk tidak akan pernah membawa kebaikan, melainkan hanya memperkeruh suasana dan merusak keharmonisan keluarga.
Solusi Islam untuk Keharmonisan
Perbanyak Istigfar dan Doa
Memohon ampun kepada Allah dan berdoa adalah langkah pertama untuk mencari solusi. Allah ﷻ berfirman:
فَصَبۡرٞ جَمِيلٞۖ وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
“Faṣabrun jamīl, wa-Allāhul-musta‘ānu ‘alā mā taṣifūn.”
“Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Dan Allah-lah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)
Menjaga Akhlak dan Komunikasi yang Baik
Penting untuk tetap berbicara dengan sopan kepada ibu mertua, meskipun ia bersikap tidak adil. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Inna min aḥabbikum ilayya wa aqrabikum minnī majlisan yawma al-qiyāmah, aḥāsinakum akhlāqā.”
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi, no. 2018; Hasan Sahih)
Libatkan Suami sebagai Mediator
Jika konflik terus berlanjut, suami harus menjadi mediator yang adil dan bijaksana, berusaha mencari solusi terbaik untuk kedua belah pihak.
Berusaha Melihat Kebaikan dalam Diri Mertua
Cobalah untuk melihat sisi positif dari ibu mertua, meskipun ia sering bersikap kurang menyenangkan. Dengan demikian, hati akan lebih mudah menerima dan bersabar.
Doakan Ibu Mertua
Mendoakan kebaikan untuk ibu mertua, meskipun ia bersikap buruk, adalah bentuk akhlak mulia yang diajarkan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Ad-du‘ā’u huwa al-‘ibādah.”
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi, no. 3371; Sahih)
Kesimpulan
Konflik antara menantu dan mertua adalah ujian dalam rumah tangga yang memerlukan kesabaran dan akhlak mulia. Suami memiliki tanggung jawab besar untuk menasihati istrinya dengan bijaksana dan menjadi penengah yang adil. Sementara itu, istri harus merenungkan nasihat suaminya, bersabar, dan tetap menjaga adab kepada ibu mertua.
Semoga Allah ﷻ memberikan kita kekuatan untuk menghadapi ujian keluarga dengan kesabaran dan ketaatan kepada-Nya.
وَٱصۡبِرۡ وَمَا صَبۡرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ
“Wa ṣbir, wamā ṣabruka illā billāh.”
“Dan bersabarlah, dan kesabaranmu itu tidak lain kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)
Penulis: HaDyJaKa



Post Comment