Saat Pasangan Menolak Syariat: Apa yang Harus Dilakukan?

M2NET Hikmah

Pernikahan dalam Islam adalah ikatan sakral yang didasarkan pada cinta, kasih sayang, dan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Namun, tidak selamanya rumah tangga berjalan mulus. Konflik dan pertikaian adalah bagian dari ujian kehidupan yang kerap muncul di antara pasangan. Dalam Islam, solusi atas setiap permasalahan harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman utama.

Namun, bagaimana jika salah satu pasangan menolak ketentuan dari sumber hukum Islam ini? Situasi ini tidak hanya menjadi ujian berat dalam hubungan suami istri, tetapi juga berdampak pada keberkahan rumah tangga dan hubungan dengan Allah ﷻ. Artikel ini akan membahas sudut pandang Islam tentang persoalan ini, penyebab di balik penolakan tersebut, serta solusi yang ditawarkan dalam syariat.

Islam sebagai Solusi Konflik Rumah Tangga

Islam telah mengatur kehidupan rumah tangga secara detail, termasuk cara menghadapi konflik. Allah ﷻ berfirman:

فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِىۡ شَىۡءٍ فَرُدُّوۡهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوۡلِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَـوۡمِ الۡاٰخِرِ​

“Fa in tanāza‘tum fī shay’in faruddūhu ilallāhi war-rasūli in kuntum tu’minūna billāhi wal-yawmil ākhir.”

“Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. An-Nisa: 59).

Ayat ini menegaskan bahwa penyelesaian perselisihan harus didasarkan pada hukum Allah dan Rasul-Nya. Prinsip ini tidak hanya menjaga keadilan, tetapi juga membawa keberkahan dalam hubungan rumah tangga.

Dalam hadits, Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan dalam menyelesaikan konflik rumah tangga. Beliau selalu menghadapi masalah dengan hikmah, kasih sayang, dan rujukan kepada wahyu Allah. Sayangnya, dalam praktiknya, ada pasangan yang tidak mau menerima ketentuan hukum Allah, baik karena kurangnya pemahaman maupun alasan lainnya.

Mengapa Pasangan Menolak Hukum Allah?

Ada beberapa alasan mengapa salah satu pasangan menolak ketentuan syariat dalam menyelesaikan konflik rumah tangga:

1. Kurangnya Pemahaman Agama

Ketidaktahuan tentang hikmah dan keindahan syariat sering kali membuat seseorang ragu atau bahkan menolak hukum Allah. Pendidikan agama yang terbatas dapat menjadi faktor utama.

Baca Juga:  Pernikahan Tanpa Cinta: Ketika Masa Lalu Menjadi Bayangan dalam Rumah Tangga

2. Ego yang Berlebihan

Ketika ego dan emosi mendominasi, seseorang sulit menerima aturan yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingannya. Mereka cenderung mempertahankan harga diri daripada mencari kebenaran.

3. Pengaruh Lingkungan Sekuler

Lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam, baik melalui pergaulan, media, maupun budaya modern, sering kali membuat seseorang lebih condong kepada logika duniawi daripada wahyu Ilahi.

4. Lemahnya Keimanan

Penolakan terhadap hukum Allah bisa menjadi tanda lemahnya iman. Allah ﷻ berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوۡكَ فِيۡمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُوۡا فِىۡۤ اَنۡفُسِهِمۡ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُوۡا تَسۡلِيۡمًا‏

“Fa lā wa rabbika lā yu’minūna ḥattā yuḥakkimūka fīmā shajara baynahum thumma lā yajidū fī anfusihim ḥarajam mimmā qaḍayta wa yusallimū taslīmā.”

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak akan beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) hakim atas perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusanmu dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65).

Dampak Penolakan Hukum Allah pada Rumah Tangga

Menolak hukum Allah bukanlah persoalan ringan. Hal ini dapat berdampak besar pada keharmonisan rumah tangga dan hubungan dengan Allah ﷻ:

1. Kehilangan Keberkahan

Rumah tangga yang tidak berlandaskan syariat akan kehilangan keberkahan. Doa dan ibadah menjadi kurang bermakna karena tidak didasari ketaatan.

2. Konflik yang Berkepanjangan

Ketika ego dan emosi lebih dominan daripada kebenaran, konflik rumah tangga sulit terselesaikan. Hal ini dapat memicu perpecahan bahkan perceraian.

3. Dampak Negatif pada Anak

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan konflik cenderung mengalami trauma psikologis. Mereka juga bisa kehilangan teladan tentang pentingnya taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

4. Gangguan Spiritualitas

Penolakan terhadap hukum Allah akan menjauhkan seseorang dari hidayah. Hal ini bisa berdampak pada ibadah, keimanan, dan hubungan dengan Allah ﷻ.

Solusi Menurut Islam

1. Kembali kepada Ilmu dan Pemahaman

Pasangan yang berselisih harus menyadari pentingnya memahami agama sebagai solusi utama. Belajar bersama melalui pengajian, membaca Al-Qur’an, atau mendengarkan nasihat ulama dapat menjadi langkah awal. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Man yuridi-llāhu bihi khayran yufaqqihhu fī ad-dīn.”

“Barang siapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan, maka Dia akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Melibatkan Mediator Islami

Baca Juga:  Hukum Membaca Doa Setelah Wudhu untuk Meningkatkan Kharisma dan Pengasihan dalam Islam

Jika konflik tidak dapat diselesaikan berdua, Islam menganjurkan melibatkan pihak ketiga yang adil, seperti keluarga atau ulama. Allah ﷻ berfirman:

وَاِنۡ خِفۡتُمۡ شِقَاقَ بَيۡنِهِمَا فَابۡعَثُوۡا حَكَمًا مِّنۡ اَهۡلِهٖ وَحَكَمًا مِّنۡ اَهۡلِهَا​ ۚ

“Wa in khiftum syiqāqa baynihimā faba‘aṡū ḥakamam min ahlihī wa ḥakamam min ahlihā.”

“Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya (suami-istri), maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.” (QS. An-Nisa: 35).

3. Musyawarah dengan Hikmah

Musyawarah adalah inti dari penyelesaian konflik dalam Islam. Pasangan harus saling mendengarkan dan mencari solusi yang tidak hanya menguntungkan salah satu pihak, tetapi juga sesuai dengan syariat.

4. Meningkatkan Keimanan melalui Ibadah

Solusi spiritual sangat penting. Pasangan yang taat harus berusaha mengajak pasangannya kepada kebaikan melalui ibadah bersama, seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan berdiskusi tentang hikmah syariat.

5. Sabar dan Berdoa kepada Allah

Kesabaran adalah kunci menghadapi ujian. Doa menjadi senjata bagi seorang muslim untuk memohon agar Allah melunakkan hati pasangan yang menolak hukum-Nya.

Kisah Inspiratif: Kesabaran Ummu Habibah dalam Menjaga Rumah Tangga

Ummu Habibah RA adalah salah satu istri Rasulullah ﷺ yang dikenal karena keteguhan imannya, bahkan di tengah ujian berat dalam rumah tangganya. Sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ, Ummu Habibah adalah istri Ubaidillah bin Jahsh, seorang pria yang awalnya juga seorang Muslim. Mereka berdua berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) demi menyelamatkan iman mereka dari tekanan kaum Quraisy di Makkah.

Namun, di negeri perantauan, Ubaidillah bin Jahsh menghadapi ujian berat. Perlahan-lahan, ia mulai menjauh dari agama Islam dan bahkan murtad dengan memilih agama Nasrani. Keputusan ini menjadi pukulan berat bagi Ummu Habibah, yang tetap teguh memegang Islam meskipun suaminya berbalik arah.

Di tengah keterasingan dan kesedihan, Ummu Habibah menghadapi situasi ini dengan penuh kesabaran. Ia tidak menyerah pada tekanan atau mengikuti jejak suaminya. Sebaliknya, ia memperkuat keimanannya dan terus berpegang pada ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Keajaiban Datang dari Allah

Dalam masa sulit itu, pertolongan Allah ﷻ datang kepada Ummu Habibah. Rasulullah ﷺ mendengar tentang ujian berat yang dialaminya di Habasyah. Sebagai bentuk penghormatan dan perlindungan, Rasulullah ﷺ mengirim lamaran kepada Ummu Habibah melalui Raja Najasyi. Lamaran itu diterima dengan penuh kebahagiaan, dan pernikahan mereka menjadi tanda penghargaan Allah kepada hamba-Nya yang tetap teguh di jalan-Nya.

Baca Juga:  Ibu dan Anak: Ketika Kasih Sayang Tertutup oleh Amarah dan Perasaan Dzalimi

Ummu Habibah akhirnya menjadi salah satu Ummahatul Mukminin (Ibu Kaum Mukminin), mendapatkan kedudukan mulia di sisi Rasulullah ﷺ. Keteguhan imannya menjadi teladan bagi banyak muslimah hingga kini.


Hikmah dari Kisah Ini

Kisah Ummu Habibah memberikan pelajaran berharga bagi pasangan yang menghadapi konflik rumah tangga, terutama jika salah satu pasangan tidak lagi mematuhi ajaran Islam:

1. Tetap Teguh di Jalan Allah
Seberat apa pun ujian rumah tangga, seorang muslim harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip Islam. Keteguhan iman adalah kunci untuk mendapatkan pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.

2. Kesabaran adalah Kunci
Ummu Habibah tidak bertindak gegabah atau emosi menghadapi perubahan suaminya. Ia memilih bersabar dan menyerahkan semua keputusan kepada Allah ﷻ.

3. Pertolongan Allah Pasti Datang
Ketika seseorang ikhlas menghadapi ujian, Allah SWT pasti memberikan jalan keluar yang tidak terduga. Pernikahan Ummu Habibah dengan Rasulullah SAW adalah bukti nyata bahwa kesabaran akan dibalas dengan kemuliaan.


Renungan: Penolakan Hukum Allah Adalah Ujian Iman

Menolak hukum Allah adalah ujian iman yang harus segera diatasi. Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan menjadikan syariat sebagai pedoman hidup. Allah ﷻ telah menjamin keberkahan bagi mereka yang taat kepada-Nya.

وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مَخۡرَجًا

“Wa man yattaqillāha yaj‘al lahu makhraja.”

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2).

Kesimpulan

Rumah tangga yang harmonis tidak akan terwujud tanpa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Konflik adalah bagian dari ujian, namun Islam telah menyediakan solusi terbaik melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ketika salah satu pasangan menolak hukum Allah, ini menjadi panggilan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan ilmu, musyawarah, kesabaran, dan doa, insyaAllah setiap konflik akan menemukan jalan keluar. Semoga Allah ﷻ memberikan kekuatan dan keberkahan bagi setiap pasangan yang berusaha membangun rumah tangga dalam naungan syariat. Aamiin.

Penulis: HaDyJaKa

Post Comment